Monday, 4 August 2008

Nasionalisme Faraonik dalam Novel-Novel Mesir Modern

NASIONALISME FARAONIK
DALAM NOVEL-NOVEL MESIR MODERN

(Sebuah Tinjauan Sejarah Sastra Arab)


Karya sastra bernuansa nasionalis ke-Mesir-an dengan cara mengangkat tema-tema bersetting Mesir (terutama Mesir Kuno) memang sudah muncul sebelum nasionalisme global di wilayah Arab secara umum itu sendiri muncul ke permukaan. Penyair kenamaan Ahmad Syauqi (1868-1932), yang juga terkenal dengan drama sajaknya hingga akhir abad di masanya, memberikan kontribusi tiga novel sejarah dengan tokoh dan setting mengambil perpaduan Mesir dan luar Mesir. Dalam Adhra al-Hind aw Tamaddun al-Fara'ina (Gadis India atau Peradaban Pharaoh), yang muncul di Alexandria pada tahun 1897, Syauqi mengombinasikan cerita sejarah secara acak untuk menceritakan sebuah periode sejarah tertentu. Dalam pandangan Hamilton A. R. Gibb, cerita itu tidak masuk akal, tidak begitu banyak alur cerita (plot)nya hingga seperti kode-kode dalam perdukunan yang menjadi pertanda buruk di hampir setiap halaman. Syauqi tetap setia terhadap bentuk fiksi Arab tradisional. Ia masih membanggakan peradaban masyarakat Mesir masa lampau, sebagaimana ditunjukkan dengan jelas oleh setting dan tokohnya.
Novelnya yang kedua, Ladiyas Aw Akhir al-Fara'ina (Ladiyas, atau Gelar Raja Mesir Kuno Terakhir), yang muncul di Kairo pada tahun 1899, juga serupa dengan novelnya yang pertama. Hanya saja settingnya berada di Mesir, Yunani, dan Persia. Zaman di mana peristiwa itu terjadi tidak diketahui, tetapi diduga kuat bahwa peristiwa itu terjadi pada masa kerajaan/kekaisaran. Ladiyas (mungkin yang dimaksud Lydia), Putri Samos, terselamatkan setelah diculik oleh saudara sepupunya, Poris. Putri itu percaya bahwa penyelamatnya adalah Pangeran Persia Bahram, tetapi dalam kenyataannya ini adalah Pharaoh Hamas (Ahmose), yang menikahinya setelah membunuh Bahram di sebuah perkelahian. Peristiwa ini sangat tidak masuk akal, khususnya perkelahian Hamas dengan singa, di mana Hamas menaklukkan binatang buas, menungganginya, dan kemudian menerbangkannya sampai ke tempat tujuannya di antara sorak kegembiraan dan pujian orang-orang. Cerita-cerita Syauqi menunjukkan minat para penulis Mesir tentang sejarah kuno negeri mereka. Mereka menandai awal munculnya fiksi historis yang mencapai titik kulminasi, seperti dapat dilihat, di dalam penulisan beberapa para novelis seperti Naguib Mahfouz.
Khafaya Misr (Rahasia Mesir) karya Qa'immaqam Nasib Bey, telah diterbitkan dalam tiga jilid pada tahun 1901 dengan mengikuti teknik dan gaya Zaydan. Novel ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu cerita-cerita historis dan kisah cinta. Karena pelaku utama memiliki nama yang sama dengan pengarangnya, novel ini nampak sampai pada taraf penulisan autobiorafi. Pada bagian historis, pengarang berbicara tentang adat kebiasaan orang Mesir, perilaku sosial mereka, serta peperangan.
Karya lain yang juga bernuansa nasionalis adalah sebuah novel berjudul Ishq al-Marhum Mustafa Kamil wa Asma Ashiqatih (Cinta Almarhum Mustafa Kamil dan Nama-Nama Kekasihnya). Karya tersebut berisi tentang sebuah kegairahan cinta. Pengarang, yang menyebut dirinya A.F., menceritakan sebuah hubungan asmara antara Mustafa Kamil (w. 1908), sorang pemimpin nasionalis Mesir dan seorang gadis tetangganya yang yatim bernama Aziza. Cinta yang ajaib ini mulai ketika Kamil dan Aziza masih kecil. Ketika itu mereka bertemu, berpelukan, dan jatuh cinta. Pada awalnya pengarang bersikeras bahwa ini bukanlah cinta khayalan, namun pada bagian akhir ia mengatakan bahwa ini hanyalah suatu cinta simbolis. Aziza melambangkan Mesir yang dicintai oleh Mustafa Kamil dan berjuang membebaskan diri dari penjajah Inggris. Di dalam perjalanan cintanya ini, ia mendapatkan saingan seorang diplomat jahat bernama Victor, yang menyimbolkan imperialisme Inggris. Victor secara terus menerus merencanakan penyerangan terhadap Kamil dan memikat hati keluarga Aziza agar berada di pihaknya dengan menyuap. Keluarga Aziza yang sangat tamak dan egois, membujuknya untuk menikahi Aziza sedemikian sehingga mereka bisa menerima lebih banyak lagi hadiah. Gaya dan teknik pengarang sangat sederhana, dan narasinya terpecah. Bab awal, menyuguhkan perjuangan hidup dan politik Kamil, bisa dihilangkan dari novel tanpa merusak pada alur cerita. Namun cinta simbolis Kamil kepada Aziza dan perjuangannya untuk menyelamatkannya dari Victor yang tamak membuat cerita tersebut menjadi enak dan menyenangkan pada saat itu.
Pada sekitar tahun 1908, terbit sebuah novel dengan judul ‘Adzrâ’ Dansyuai1 (Gadis Dansyuai) yang ditulis oleh seorang sastrawan kenaman Muhammad Husein Haikal. Novel tersebut mengangkat tema perjuangan para petani Dansyuai yang diperlakukan semena-mena oleh kekuasaan kolonial Inggris dan antek-antek pejabat lokal yang loyal terhadap kolonial. Titik klimaks novel ini adalah Keputusan Lord Kromer untuk melaksanakan hukuman gantung massal terhadap para petani dan kemudian disusul pemberontakan para petani.
Setelah berakhirnya PD I, tiba-tiba Mesir mengalami kebangkitan nasionalisme yang ditunjang oleh beberapa faktor, yaitu: (1) kehadiran pasukan Inggris, Australia, dan Selandia Baru yang melukai rasa kebangsaan Mesir, (2) pembiayaan besar bagi tentara yang menyebabkan inflasi dan manipulasi yang mengakibatkan penderitaan rakyat berpenghasilan tetap, (3) digunakannya orang Mesir menjadi tenaga kerja Inggris yang mengurangi persediaan buruh Mesir, terutama di bidang pertanian, dan berakibat jatuhnya produksi makanan, (4) naskah Empat Belas Pasal Wilson serta deklarasi Inggris-Prancis (8 November 1918) yang menjanjikan kemerdekaan bagi Negara-negara Arab yang merangsang hasrat yang besar guna meraih kemerdekaan penuh dari pengawasan asing.2
Rasa nasionalisme yang secara umum memang terasa kental pada masa tersebut, ternyata tidak hanya nampak di bidang politik saja, tetapi juga di bidang sastra. Sebelumnya pada tahun 1918, Ahmad Dhaif, salah seorang pengajar di Universitas Mesir, memang pernah menyatakan keinginannya untuk dapat memiliki sastra khas Mesir yang mengungkapkan kehidupan sosial, perkembangan budaya, bahkan penggunaan bahasa serta retorika dan style yang memiliki ciri khas ke-Mesir-an. Di antara tokoh yang cukup memberikan inspirasi lahirnya sastra nasionalis di Mesir adalah Ustâdz al-Jail Ahmad Luthfi al-Sayyid yang pada saat pendudukan penjajah Inggris meneriakkan seruannya yang paling terkenal yaitu Misr li al-Misriyyîn (Mesir untuk Masyarakat Mesir). Dalam sebuah eksperimennya ia menulis sebuah prosa yang berlatar belakang sosial Mesir. Selain itu, munculnya sastra nasionalis di Mesir juga dianggap sebagai aplikasi dari teori Taine dan Brunetieve tentang pentingnya rasa kesukuan (ethnicity) dan pembangunan sastra.
Kondisi Mesir yang tidak bisa memunculkan rasa optimisme telah memberikan inspirasi bagi Haykal untuk menuangkan pemikirannya. Pada tahun 1926, melalui majalah mingguan al-Siyâsah, Haykal melakukan pembelaan terhadap perlunya kembali ke pharaonic lama sehingga lahir istilah pharaonisme yang merupakan bentuk nasionalisme yang menempatkan Mesir sebagai kesatuan nasional.
“Perhatian saya pada sejarah Mesir kuno melampaui perhatian saya pada novel”, itulah kata-kata Mahfouz ketika sekelompok arkeolog Italia yang dipimpin oleh Giuseppe Fanfoni, seorang Egyptolog terkemuka, mengunjungi Mahfouz. Di awal 1920-an ketika Carter menemukan kuburan Raja Tut, Mahfouz masih duduk di bangku sekolah. Di Mesir, penemuan ini tidak hanya mengejutkan namun juga memberikan perasaan bangga pada sejarah kuno bagi masyarakat Mesir. Inilah kemudian yang mendorong Mahfouz untuk pergi ke perpustakaan nasional dan mempelajari buku-buku sejarah. Buku pertama yang ia terbitkan bukan dalam bentuk novel, namun terjemahan dari buku berjudul Ancient Egypt, yang pada waktu itu dibaca oleh hampir semua orang. Ketika Mahfouz memutuskan untuk berkecimpung dalam dunia sastra, ia pun kemudian memilih tema-tema sejarah sebagai bahan inspirasinya. Sebagaimana ungkapan Mahfuz dalam sebuah wawancara dengan Salmawy di harian Al-Ahram edisi 1 - 7 November 2006, No. 818, ia mengungkapkan: “Saya ingin menulis sejarah dalam bentuk fiksi, seperti yang sebelumnya dilakukan oleh Sir Walter Scott pada sejarah Skotlandia. Saya ingin mengulangi apa yang dilakukan oleh Rider Haggard, novelnya berjudul Ayesha yang sangat saya kagumi, pada sejarah Mesir kuno.”

BAHAN BACAAN
Hobsbawm, E. J. Nasionalisme Menjelang Abad XXI. Hartian Silawati (Penerjemah), Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992.
Lenczowski, George. Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1993.
Barakat, Halim. The Arab World: Society, Culture, and State. Los Angeles: University of California Press, 1993.
Salmawy, Mohamed. “The Pharaonic phase” dalam Al-Ahram, 1 - 7 November 2006 Issue No. 818

Catatan Kaki
1 Keputusan otoritas sastra di Mesir menetapkan bahwa novel Zainab merupakan novel dalam bahasa Arab yang pertama kali, meskipun lima tahun sebelum itu Husein Haikal sudah pernah menulis novel ‘Adzrâ’ Dansyuai. Keputusan tersebut diambil dengan alasan penggunaan bahasa ‘ammiyah dalam ‘Adzrâ’ Dansyuai.
2 George Lenczowski, Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1993, hal. 299.

Sunday, 3 August 2008

”MUSIM GUGUR” DALAM PANDANGAN LAMARTINE DAN ARIF KHUDAIRI

”MUSIM GUGUR”
DALAM PANDANGAN
LAMARTINE DAN ARIF KHUDAIRI

Oleh: Achmad Atho’illah, A.Md., A.Md., S.S.

A. Pendahuluan
Setiap penyair pasti memiliki arah dan tujuan tertentu dalam mengekspresikan karyanya. Ia akan terus dituntut untuk memilah, memilih, dan mencerna kata demi kata untuk mencapai sebuah kesempurnaan estetik. Seorang penyair pada hakikatnya tidak pernah berhenti bereksperimen karena dengan proses inilah ia akan dapat memperoleh jawaban dari kegelisahan puitiknya hingga ia dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili perasaan dan isi hatinya.
Banyak inspirasi yang digunakan oleh sang penyair untuk mengungkapkan perasaan dan isi hatinya tersebut. Salah satu di antaranya adalah melalui kosakata-kosakata fenomena alam, seperti hujan, badai, musim, dan sebagainya. Ketika seorang penyair mahjar Asia, Arif Kharki Khudairi, mengirimkan beberapa puisinya kepada saya pada tanggal 24 November 2007, saya menemukan juga kosakata-kosakata alam tersebut dalam beberapa sajaknya, seperti sajak Ragm al-Kharîf, ‘Umrî ka ‘Umriki, Min Jadîd, Flaminkû (Flamenco), dan Dauhah Syi’rî. Seketika itu juga, saya langsung teringat Lamartine yang juga pernah menulis sajaknya dengan memanfaatkan fenomena alam sebagai media penyampaian gagasannya. Untuk itulah kemudian tulisan ini muncul. Dalam tulisan ini, saya sengaja membatasi pada penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan musim, terutama musim gugur dan semi sebagai oposisinya, yang digunakan oleh kedua penyair tersebut.
Fenomena penggunaan kosakata musim gugur maupun musim semi yang dilakukan oleh kedua penyair tersebut dapat dimaklumi karena Prancis, tempat asal Lamartine, sebagaimana kebanyakan negara-negara Eropa lainnya, hidup dalam iklim empat musim, yaitu musim panas (l’été), musim gugur (l’automne), musim dingin (l’hiver), musim semi (le printemps). Begitu juga Mesir, tempat asal Arif Khudairi, sebagai wilayah beriklim subtropis juga memiliki empat musim, yaitu musim panas (shaif), musim gugur (kharif), musim dingin (syita'), dan musim semi (rabi'). Bagi Lamartine dan Arif Khudairi, musim-musim tersebut memiliki arti penting, hingga keduanya memasukkan dalam karya puisinya. Musim gugur adalah salah satu dari empat musim tersebut yang ternyata menyita perhatian Lamartine dan Khudairi.
Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1985: 330) musim gugur diartikan dengan musim antara musim panas dan musim dingin. Dalam zona berhawa sedang, musim gugur adalah musim di mana kebanyakan tumbuhan ditunai, dan pohon deciduous melepas daun-daun mereka. Dia juga merupakan musim di mana hari-hari bertambah pendek dan dingin, dan peningkatan presipitasi di beberapa bagian dunia. Secara astronomi, musim gugur dimulai sekitar 23 September di belahan Utara, dan 21 Maret di belahan Selatan, dan berakhir sekitar 21 Desember di belahan Utara dan 21 Juni di belahan Selatan. Namun, meteorologis menghitung bulan-bulan Maret, April, dan Mei di belahan Selatan, dan September, Oktober, dan November di belahan Utara sebagai musim gugur. Suatu pengecualian definisi ini ditemukan di Kalender Irlandia di mana mereka masih mengikuti putaran Keltik, di mana musim gugur dihitung dari bulan-bulan Agustus, September, dan Oktober.
Perubahan musim gugur yang terjadi secara periodik ini tentu memiliki pengaruh yang besar terhadap aktivitas manusia. Sehingga tak heran jika perubahan ini juga mampu menggerakkan perasaan manusia. Lalu sebenarnya apa makna yang terkandung dalam musim gugur (l’automne bagi Lamartine dan kharif bagi Khudairi) ditilik dari karya keduanya?

B. Musim Gugur dalam Sajak L’Automne
Sebagai kelompok liris romantik, Lamartine dalam karyanya sering kali ditemukan hubungan yang erat antara manusia dan alam. Alam dijadikan sebagai teman dan sahabat untuk meluapkan perasaan dan isi hatinya. Alam sering kali dimanusiakan, sehingga ia dapat berdialog, bergembira, berduka sebagaimana halnya manusia. Mengenai musim gugur, Lamartine secara gamblang telah menjadikannya sebagai judul dalam salah satu sajaknya yaitu L’Automne.
Dalam sajak tersebut Lamartine mengawalinya dengan ucapan salam pada musim gugur yang seakan menjadi sahabat dekatnya. Dalam sajaknya tersebut ia menyatakan.

Salut, bois couronnés d’un reste de verdure,
Feuillages jaunnissant sur les gazons épars!
Salut, derniers beaux jours! le deuil de la nature
Convient à la douleur et plaît à mes regards.

Salam, hutan-hutan yang masih menyisakan sedikit kehijauan,
Dedaunan menguning yang berserakan di hamparan rumput!
Salam, hari-hari indah yang terakhir! duka cita alam
Selaras dengan kesedihan dan menyenangkan pandanganku.
(Terjemahannya oleh Elly Danardono dalam Husen, dkk, 2001: 430-431)

Dedaunan hijau yang masih tersisa sedikit menunjukkan bahwa musim gugur akan segera ditinggalkannya dan saat perpisahan pun hampir tiba. Sebuah kondisi yang sangat berat untuk dapat berpisah dengan sahabatnya yang pernah memberikan kesan keindahan baginya. Dalam sajaknya tersebut Lamartine kemudian melanjutkan.

Je suis d’un pas rêveur le senter solitaire;
J’aime à revoir encor, pour la dernière fois,
Ce soleil pâlissant, dont la faible lumière
Perce à peine à mes pieds l’obscuritè des bois.


Kutapaki jalan kecil terpencil sambil melamun;
Aku suka melihat lagi, untuk terakhir kali,
Matahari yang memucat itu, sinarnya yang lemah
Masih mampu menembus kegelapan hutan di kakiku.
(Terjemahannya oleh Elly Danardono dalam Husen, dkk, 2001: 430-431)

Dalam suasana kesedihan, aku liris menapakkan kakinya ke sebuah jalan yang kecil dan sepi. Ia kemudian merenung dan menatap sahabatnya untuk sekali lagi sebelum ia meninggalkannya. Dengan sedikit keceriaan dan harapan, sahabatnya masih mampu untuk menguatkannya untuk bangkit keluar dari kesedihan dan kerunyaman. Bahkan kematian sebagaimana diungkapkan oleh Lamartine dalam baris selanjutnya.

Oui, dans ces jours d’automne où la nature expire,
A ses regards voilés je trouve plus d’attraits;
C’est l’adieu d’un ami, c’est le dernier sourire
Des lèvres que la mort va fermer pour jamais.
Ainsi, prêt à quitter l’horizon de la vie,
Pleurant de mes longs jours l’espoir évanoui,


Ya, pada hari-hari musim gugur ini saat alam mati,
Pada pemandangannya yang terselubung ku temukan daya tarik lebih banyak ;
Itulah salam selamat tinggal seorang teman, itulah senyuman terakhir
Bibir-bibir yang segera akan dikatupkan maut untuk selamanya.
Dalam suasana itu, siap untuk meninggalkan cakrawala kehidupan,
Dengan menangisi harapan yang lenyap dari hari-hariku yang panjang,
(Terjemahannya oleh Elly Danardono dalam Husen, dkk, 2001: 430-432)

Sesekali aku liris kembali mengenang keindahan masa lalunya yang tak pernah ia nikmati. Ia merasa berat untuk berpisah dengan dunianya. Ia pun sedih karena kematian sudah begitu dekat.

Je me retourne encore, et d’un regard d’envie,
Je contemple ses biens dont je n’ai pas joui.
Terre, soleil, vallons, belle et douce nature,
Ja vous dois une larme aux bords de mon tombeau;

Kutoleh lagi ke belakang, dan dengan pandangan iri
Ku tatap kekayaan hidup yang tak pernah kunikmati.
Tanah, matahari, lembah-lembah, alam nan indah dan ramah,
membuat air mataku menitik di tepi kuburku;
(Terjemahannya oleh Elly Danardono dalam Husen, dkk, 2001: 430-432)

Perasaan yang begitu berat untuk berpisah dari sahabatnya tersebut didukung pula dengan gambaran dalam sajak berikut.

L’air est si parfumé ! la lumiére est si pure!
Aux regards d’un mourant le soleil est si beau!


Udara begitu harum! cahaya begitu sempurna!
Pada pandangan orang sekarat matahari begitu indah!
(Terjemahannya oleh Elly Danardono dalam Husen, dkk, 2001: 430-432)

Dalam kondisi bercampurnya antara manisnya hidup dan kegetirannya, kini aku liris hanya bisa mengharapkan kebahagiaan dan kesenangan yang mungkin masih tersisa di masa-masa mudanya muncul meskipun hanya sedikit saja. Ia kini hanya bisa mengharapkan dalam kesendiriannya, ada orang lain yang tidak dikenalkan akan mau memahami jiwanya dan menyambutnya dengan sambutan yang hangat. Ia juga berharap ada seorang wanita yang datang kepadanya membawa kabar gembira serta mengembalikan semangat hidupnya.

Je voudrais maintenant vider jusqu’à la lie
Ci calice mêlé de nectar et de fiel:
Au fond de cette coupe où je buvais la vie,
Peut-être restait-il une goutte de miel!
Peut-être l’avenir me gardait-il encore
Un retour de bonheur dont l’espoir est perdu!
Peut-être, dans la foule, une âme que j’ignore
Aurait compris mon âme, et m’aurait répondu!...
La fleur tombe en livrant ses parfums au zéphire;
A la vie, au soleil, ce sont là ses adieux:


Sekarang ingin kureguk habis sampai ke endapannya
Piala berisi campuran madu dan empedu:
Di dasar gelas tempat kehidupan ku reguk,
Barangkali masih tersisa setetes madu !
Barangkali masa depan masih menyimpan untukku
Kembalinya kebahagiaan yang harapannya sudah hilang!
Barangkali, di antara orang banyak, seorang insan yang tak ku kenal
Mungkin akan memahami jiwaku, dan akan menyambutku!...
Bunga gugur sambil mengirimkan wewangiannya kepada angin sepoi-sepoi;
Kepada kehidupan, kepada matahari, itulah salam-salam perpisahannya;
(Terjemahannya oleh Elly Danardono dalam Husen, dkk, 2001: 430-432)

Akan tetapi masa tua atau bahkan kematian tetap saja menjemputnya. Kini aku liris hanya bisa meratapinya dan mengharapkan ada seseorang yang memperhatikan dan bersimpati kepadanya.

Moi, je meurs ; et mon âme, au moment qu’elle expire,
S’exhale comme un son trist et mélodieux.
Aku, aku mati, dan jiwaku, saat ia lepas,
Menyebar seperti bunyi yang sendu dan merdu.
(Terjemahannya oleh Elly Danardono dalam Husen, dkk, 2001: 430-432)

C. Musim Gugur dalam Sajak Ragm al-Kharîf
Khudairi dalam sajaknya Ragm al-Kharîf memulai dengan mengenang masa-masa keindahan di musim panas, yaitu masa kedewasaan, masa pencapaian dari apa yang diinginkan, dan masa keberhasilan. Dalam sajaknya Khudairi mengatakan.

في الصيف
قرب الغدير
الصغير.. الصغير..

Di musim panas
Di dekat anak sungai
Yang mungil… yang kecil…

Kami liris menikmati keindahan masa-masa kedewasaannya untuk membangkitkan semangat hidup di masa tuanya (musim gugur). Ia menyongsong masa depannya yang begitu indah sebagai digambarkan salam sajak seperti waktu pagi hari yang begitu cerah seperti purnama dan memancar seperti kilapan emas.

كنا نسير وكان الصباح
بهياكبدر السماء المنير
والشمس تملأ دنيانا نورا
زهيرا كمثل النضار النضير

Kami berjalan, sementara pagi
Begitu indah bak purnama bersinar di angkasa
Mentari pun memenuhi bumi dengan cahaya
Yang memancar seindah emas

Namun meski demikian, aku liris juga sadar akan masa tuanya yang telah benar-benar datang. Aku liris pun kemudian merenung. Ia melihat segala yang ada di luar dirinya merasakan kesedihan di masa-masa datangnya tua karena segalanya telah pergi dan yang ada hanyalah kesendirian dan kesepian. Dalam hal ini Khudairi dalam sajaknya menyatakan.

وحين نظرت
إليك لمحت
بجفنيك دمعا
تحدر مثل الندى
في سكون

Dan ketika aku memandangmu
Aku melihatAir mata di pelupuk matamu
Mengucur seperti hujan
Dalam keheningan

Menurut Rifaterre, sajak biasanya baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain, baik dalam hal persamaan atau pertentangannya (Pradopo, 2003:155). Julia Kristeva (Culler dalam Teeuw) mengemukakan bahwa setiap teks (termasuk teks karya sastra) terwujud sebagai mosaik kutipan-kutipan dan merupakan peresapan serta transformasi teks-teks lain (Teeuw, 2003:121). Sehingga ia berpandangan bahwa setiap teks harus dibaca atas dasar latar belakang teks-teks lain. Makna musim gugur yang diproduksi oleh bagian akhir sajak Ragm al-Kharîf tersebut di atas selanjutnya diperkuat dengan kata yang sering dijadikan sebagai oposisi musim gugur, yakni musim semi. Khudairi dalam sajaknya yang lain dengan judul ‘Umrî ka ‘Umruki menyatakan.

عشرون عاما
عمركِ أنتِ
كعمر الزهور
وعمر الربيع
وعمر الهوى

Dua puluh tahun
Itulah usiamu
Seperti usia bunga
dan musim semi
Dan usia cinta

Musim semi dalam sajak tersebut diidentikkan Khudairi dengan masa kanak-kanak dan remaja, masa pertumbuhan dalam suasana ceria, menyenangkan, dan penuh dengan keindahan. Jika kata musim semi yang dimaksudkan oleh Khudairi tersebut dioposisikan dengan musim gugur, maka sebenarnya Khudairi dalam sajak tersebut juga ingin menyatakan bahwa musim gugur identik dengan masa tua, masa penurunan semangat hidup yang penuh dengan kegelisahan, dan kerunyaman.
Makna musim semi tersebut kemudian diperkuat lagi dengan sajaknya yang lain, Min Jadîd. Dalam sajak tersebut Khudairi menyatakan.

وحتى يعود الربيع إلينا
فتزهو فيها
أزاهير حبّ
جديده جديده

Dan ketika musim semi datang pada kami
Tumbuh
Bunga-bunga cinta
Yang benar-benar segar

D. Penutup
Bagi Lamartine, musim gugur adalah sahabat dekatnya. Lamartine lebih cenderung pesimis dalam pengungkapan musim gugur dalam sajaknya. Baginya musim gugur adalah tanda perpisahan sebelum “mati” di musim dingin. Ia memang sesekali mengungkapkan keindahan di masa lalunya, tetapi dengan penggambaran yang agak kabur karena selalu diikuti dengan sesuatu yang justru sebaliknya. Berbeda dengan Arif Khudairi, lebih cenderung optimistis. Ia jarang sekali meratapi kesedihan kecuali untuk orang kedua. Dengan mengenang keindahan di masa lalunya di musim panas yang sering dilambangkan sebagai sebuah masa kedewasaan atau keberhasilan, Khudairi mencoba untuk membangkitkan semangat meski masa tua, menurunnya stamina atau bahkan kematian sudah semakin dekat. Ia pun mengungkapkannya dengan tanpa adanya ambiguitas.


DAFTAR BACAAN
Abukhudairi, Arif Kharki. Sajak Ragm al-Kharîf, ‘Umrî ka ‘Umriki, dan Min Jadîd, dalam kiriman email kepada penulis tertanggal 24 November 2007.
Husen, Ida Sundari, dkk.. Meretas Ranah Bahasa, Semiotika, dan Budaya. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 2001.
Pradopo, Rachmat Djoko. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.
Teeuw, A.. Sastera dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 2003.

MEDIA PUBLIKASI MASYARAKAT SASTRA ARAB EMIGRAN

MEDIA PUBLIKASI MASYARAKAT SASTRA ARAB EMIGRAN
Achmad Aef

Media publikasi seperti surat kabar, majalah, jurnal, dan bahkan internet memiliki peranan penting dalam penyampaian gagasan kesusasteraan, terlebih bagi masyarakat emigran sebagai kelompok yang secara geografis terpisah dari komunitas sastranya sendiri karena mereka telah meninggalkan negaranya untuk menetap di negara lain.
Pengetahuan tentang masyarakat sastra Arab emigran (al-mahjar) pertama kali diketahui melalui penerbitan majalah al-Muqtataf (1876) oleh kelompok Syro-Lebanese yang dimotori oleh Ya’qûb Sharûf dan Fâris Namr.
Aktivitas serupa juga muncul dengan diterbitkannya media al-Gharib fi al-Gharb oleh Michael Roustoum pada tahun 1895 di New York. Khalil Mathran, salah seorang sastrawan Lebanon, juga turut andil dalam usaha publikasi produk sastra emigran dengan menerbitkan al-Majallah al-Mishriyyah pada tahun 1902 yang memuat puisi-puisi dari kalangan sastrawan emigran Arab-Amerika. Pada tahun yang sama Jurji Zaidan juga menerbitkan majalah al-Hilâl yang di antaranya pernah memuat puisi-puisi prosais karya Amin Rihani dan Jubran Khalil Jubran.
Pada tahun 1906, dari Alexandria Farah Anton pindah ke Amerika Serikat. Pada saat tinggal di Amerika ini, ia menerbitkan sebuah jurnal bernama al-Jâmi’ah yang bermarkas di New York yang sebelumnya pernah ia bangun di Mesir dengan nama al-Jami'ah al-Uthmaniyyah (Pan-Ottomanisme) sejak 15 Maret 1899. Selang tiga tahun, akhirnya Anton pulang ke Mesir dan kembali menerbitkan jurnalnya di Kairo.
Setelah Perang Dunia I, karya-karya sastra Arab emigran -terutama yang berasal dari Amerika- semakin semarak di Mesir. Hal ini ditandai dengan munculnya kelompok al-Râbithah al-Qalamiyyah di New York pada tahun 1920 dan dicetaknya kembali beberapa karya sastra emigran yang pada masa sebelumnya telah terbit di beberapa majalah milik kelompok emigran. Di antaranya adalah beberapa karya Jubran seperti al-Ajnihah al-Mutakassirah (1920) yang pada tahun 1908 pernah dimuat dalam majalah al-Hilâl dan pada tahun 1911 pernah dimuat dalam majalah al-Muqtataf. Selain Jubran kelompok ini juga diperkuat oleh Michael Nu’aimah, Elia Abû Mâdhî, Nasîb ‘Arîdh, Amîn al-Raihânî, Rasyîd Ayyûb, Abd al-Masîh Haddâd, Wadî’ Bâhûd, dan Ilyâs ‘Athallah. Para sastrawan tersebut menerbitkan karya sastra mereka di majalah al-Sâ’ih milik Abd al-Masîh Haddâd yang terbit setiap tahun.
Pada bulan Januari 1933 muncul kelompok al-‘Ushbah al-Andalusiyyah di kota São Paulo, Brazil. Penggagasnya ialah Syukrullah al-Jarr. Kemudian dilanjutkan oleh penyair emigran asal Lebanon Michael al-Ma’luf. Ia mengokohkan kelompok ini dengan pengorbanan keras dan penuh perhatian. Di antara anggotanya yang terkenal adalah Syukrullah al-Jarr, Rasyîd al-Khûrî, Nazhîr Zaitûn, George Ma’lûf, Taufîq Qurbân, Iskandar Karbâj, Ilyâs Farhât, ‘Aql al-Jarr (Syaqîq Syukrullah), Habîb Mas’ûd, Anî al-Râsî, Jarjas Karam, Najîb Ya’qûb, Syafîq al-Ma’lûf, Taufîq Dha’ûn, Qaishar al-Khûrî, Nashr Sam’ân, Yûsuf As’ad Ghanim, Yûsuf al-Ba’ainai, dan George Hassûn al-Ma’lûf. Kelompok ini telah menerbitkan sebuah majalah yang terkenal dengan nama Majallah al-‘Ushbah yang dipimpin oleh Habîb Mas’ûd, kemudian dilanjutkan oleh Syafîq al-Ma’lûf.
Di antara media publikasi terpenting lainnya adalah jurnal Syrian World yang telah menerbitkan karya drama, puisi, prosa, dan artikel dari para penulis berbobot di awal abad ke-20. Sargon Boulus, salah seorang penyair asal Irak yang turut memberikan kontribusi pada majalah Syi’r bersama Yûsuf al-Khâl dan Adonis di Beirut, pada tahun 1969 hijrah ke Amerika dan menerbitkan majalah Dajlah. Pada sekitar tahun 1900-an Etel Adnan, seorang penulis Arab-Amerika yang memiliki reputasi tingkat internasional dan pernah menjabat sebagai presiden RAWI periode 1996 hingga 2005, juga pernah mendirikan penerbitan sendiri dengan nama The Post-Apollo Press.
Pada tahun 1996 Barbara Nimri Aziz dan Leila Diab mendirikan RAWI (Radius of Arab American Writers). Sebuah kelompok yang didukung oleh para penulis dan sastrawan terkenal seperti Etel Adnan, Nawal El-Sadawi, Salma Khadra Jayyusi, Khaled Mattawa dan Naomi Shihab Nye ini memiliki media publikasi The RAWI Newsletter yang terbit tiga kali dalam setahun. Hingga samapi saat ini RAWI masih aktif menerbitkan karya-karya para penulis dan sastrawan emigran Arab-Amerika, bahkan karya-karyanya dapat dinikmati secara online di internet.
Saat ini media publikasi sastra Arab emigran yang layak untuk disebutkan adalah majalah Banipal. Majalah yang berdiri di Inggris pada bulan September 2004 ini telah menerbitkan karya-karya dari para penulis Arab yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Selain itu majalah ini juga memunculkan isu-isu terbaru dalam kesusasteraan Arab kontemporer.
1 Penulis adalah salah seorang pemerhati sastra Arab di Jogjakarta dan aktif di the Muallaqat Forum of Jogjakarta bersama Bachrum Bunyamin, dkk. Saat ini penulis menjabat sebagai Direktur Bidang Riset di forum tersebut.